Senin, 07 September 2026

Wakapolri: Penanganan Bencana dan Konflik Sosial Harus Utamakan Pencegahan


 CIKEAS, JAWA BARAT – Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menekankan pentingnya langkah pencegahan dalam menghadapi potensi bencana maupun konflik sosial. Menurutnya, kesiapsiagaan dan kemampuan melakukan mitigasi sejak dini menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.


Hal tersebut disampaikan Dedi dalam Apel Gelar Pasukan dalam rangka Kesiapan Menghadapi Bencana dan Konflik Sosial Tahun 2026 di Cikeas, Jawa Barat, Senin (7/9/2026).


Dedi mengatakan, Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena kondisi geologis, geografis dan klimatologis yang kompleks. Posisi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire juga meningkatkan risiko terjadinya gempa bumi, tsunami hingga erupsi gunung api.


“Rangkaian fenomena tersebut menjadi pengingat bagi kita bahwa bencana alam dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun pada fase pra-bencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana,” ujar Dedi dalam keterangannya di Cikeas, Senin (7/9/2026).


Ia menyebut, berdasarkan data BNPB, sejak Januari 2026 hingga saat ini telah terjadi 1.730 kejadian bencana alam di Indonesia. Bencana yang didominasi banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut telah menyebabkan 397 orang meninggal dunia serta lebih dari 4 juta masyarakat mengungsi.


Di tengah kondisi tersebut, Polri memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana untuk memberikan respons cepat melalui Operasi Aman Nusa II. Penanganan dilakukan mulai dari evakuasi dan pencarian korban, pengamanan lokasi, pengaturan lalu lintas dan jalur evakuasi, hingga pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.


“Dengan kesiapan personel, sarana prasarana, dan kecepatan bertindak, Polri harus senantiasa hadir di tengah masyarakat, memberikan rasa aman, meringankan beban masyarakat yang terdampak, serta memberikan pengabdian terbaik dalam setiap situasi bencana,” tegasnya.


Selain bencana alam, Dedi mengingatkan jajaran Polri terhadap potensi konflik sosial yang dapat dipicu berbagai persoalan politik, ekonomi, sosial budaya maupun keamanan. Potensi tersebut, kata dia, juga dapat berkembang melalui ruang digital apabila tidak dikelola secara tepat.


Karena itu, Polri diminta memperkuat deteksi dini, sistem peringatan dini, pemetaan potensi kerawanan serta patroli siber terhadap narasi provokatif. Pendekatan persuasif juga perlu diperkuat dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.


“Pada penanganan konflik sosial, utamakan langkah pencegahan untuk mitigasi seluruh risiko serta dampak berkelanjutan yang ditanggung masyarakat. Pahami akar persoalan di wilayah masing-masing dan bangun kedekatan dengan tokoh masyarakat untuk dapat memitigasi timbulnya konflik,” kata Dedi.


Dedi menegaskan, penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional masyarakat yang harus dihormati dan dilindungi. Namun demikian, Polri tetap harus memiliki kesiapan untuk mencegah potensi eskalasi agar tidak berkembang menjadi konflik, kekerasan maupun gangguan kamtibmas.


Dalam kondisi konflik, personel Polri harus mampu melakukan pengamanan, memisahkan pihak-pihak yang berkonflik, melindungi masyarakat dan objek vital, serta melakukan penegakan hukum secara profesional, proporsional dan berkeadilan.


Sementara pada tahap pascakonflik, Polri juga memiliki peran dalam mendukung rekonsiliasi, pemulihan keamanan serta membangun kembali kepercayaan masyarakat agar konflik tidak kembali terjadi.


Dedi kemudian memberikan dua penekanan kepada seluruh personel yang tergabung dalam Operasi Aman Nusa I dan Aman Nusa II. Dalam penanganan bencana, seluruh tahapan harus berorientasi pada keselamatan dan pemulihan korban, mulai dari siaga darurat, tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.


“Data yang tepat menjadi pijakan, gerak yang cepat menjadi tuntutan, dan kerja yang cermat menjadi jaminan keselamatan,” ujarnya.


Sementara dalam penanganan konflik sosial, personel diminta mengutamakan pencegahan, memahami akar persoalan dan membangun kedekatan dengan masyarakat. Apabila kondisi membutuhkan tindakan tegas, penindakan harus dilakukan secara terukur dan profesional dengan mengedepankan prinsip ultimum remedium atau penegakan hukum sebagai upaya terakhir.


Melalui kesiapan tersebut, Polri berkomitmen memastikan kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat, baik ketika menghadapi bencana maupun potensi konflik sosial, sekaligus menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan.

Kebakaran Lahan Berhasil Dipadamkan Petugas Gabungan.

 

Kebakaran Lahan Berhasil Dipadamkan Petugas Gabungan.

SEMIN - Kebakaran lahan seluas kurang lebih 2.000 meter persegi terjadi di area perbukitan Padukuhan Ngentak, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semin, Senin (7/9) siang. Berkat kesigapan aparat kepolisian bersama TNI dan warga setempat, api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke area yang lebih luas.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 11.00 WIB tersebut pertama kali diketahui oleh Sandi Eko H (33), dukuh setempat, saat melintas di lokasi kejadian. Melihat kobaran api di atas bukit, ia segera memanggil warga sekitar termasuk Suyono (51),bserta berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil Semin.

Di bawah kendali Kapolsek Semin AKP Aris Sugiyanto, personel gabungan yang terdiri dari jajaran Polsek dan Koramil Semin langsung mendatangkan tim ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengamanan, meminta keterangan saksi, serta bersama warga memadamkan titik api.

Kebakaran diduga berasal dari rambatan api pembakaran sampah di bawah lereng bukit yang belum diketahui pelakunya. Lokasi kejadian yang berada jauh dari permukiman warga membantu mencegah risiko lanjutan.

Berkat kerja sama petugas dan masyarakat dalam memadamkan sisa bara pada tumpukan daun kering serta rumput ilalang, api secara keseluruhan berhasil dipadamkan pada pukul 12.00 WIB. Hingga saat ini, situasi di lokasi dilaporkan dalam keadaan aman dan kondusif.

( Humas Polres Gunungkidul ).

Upaya Bhabinkamtibmas Dalam Pencegahan Kebakaran Hutan.

 

Upaya Bhabinkamtibmas Dalam Pencegahan Kebakaran Hutan.

Giring, Paliyan - Di tengah musim kemarau yang rawan bencana, Bhabinkamtibmas Kalurahan Giring, Aiptu Wawan Guritno, mengintensifkan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui sinergi bersama pamong kalurahan. Kegiatan koordinasi yang berlangsung di Balai Kalurahan Giring pada Senin, 7 September 2026, ini dipimpin langsung oleh penanggung jawab kegiatan Kapolsek Paliyan, AKP Slamet Riyanto.

Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi karhutla. Aiptu Wawan mengimbau warga agar menghindari pembakaran sampah pekarangan secara sembarangan guna mencegah meluasnya titik api yang dapat memicu kebakaran lahan.

Dalam kesempatan yang sama, warga juga diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penipuan dan aksi gendam yang melibatkan orang tak dikenal. Sebagai langkah respons cepat terhadap berbagai gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), layanan Call Center Polri 110 turut disosialisasikan kepada pamong kalurahan untuk diteruskan kepada warga. Rangkaian kegiatan koordinasi ini dilaporkan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa kendala berarti.

( Humas Polres Gunungkidul ).

322 Personel Diterjunkan, Polri Perkuat Edukasi dan Kehadiran Negara Cegah Karhutla


 322 Personel Diterjunkan, Polri Perkuat Edukasi dan Kehadiran Negara Cegah Karhutla


JAKARTA – Polri memperkuat pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan memperluas kehadiran personel di tengah masyarakat. Sebanyak 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan dan Pencegahan Karhutla gelombang kedua diberangkatkan ke empat wilayah, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.


Pemberangkatan tersebut merupakan bagian dari upaya Polri membangun pencegahan Karhutla yang lebih dekat dengan masyarakat melalui edukasi, komunikasi dan pendekatan humanis.


Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum setelah kebakaran terjadi. Kesadaran masyarakat dan kemampuan mencegah potensi kebakaran sejak dini harus menjadi kekuatan utama.


“Rekan-rekan harus benar-benar hadir di tengah masyarakat. Bangun komunikasi yang baik, berikan pemahaman dan ajak masyarakat bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini,” ujar Wakapolri dalam pembekalan di Jakarta, Senin (7/9/2026).


Sebanyak 322 personel tersebut terdiri dari 64 peserta Sespimti, 207 peserta Sespimmen, 29 peserta SPPK dan 22 pendamping. Mereka akan melaksanakan tugas selama 10 hari, atau menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan situasi di wilayah.


Sebelumnya, 189 peserta didik telah lebih dahulu diberangkatkan untuk melaksanakan tugas di wilayah. Gelombang kedua ini menjadi bagian dari kesinambungan dan lintas ganti agar kegiatan di lapangan tetap berjalan.


Wakapolri meminta para personel tidak datang dengan pendekatan yang menggurui. Mereka harus mendengarkan masyarakat, memahami karakteristik wilayah dan memberikan edukasi yang mudah dipahami.


“Datanglah dengan pendekatan yang baik dan humanis. Dengarkan masyarakat, pahami kondisi di lapangan, kemudian berikan edukasi yang mudah dipahami,” katanya.


Menurut Wakapolri, masyarakat bukan objek penanganan Karhutla, melainkan bagian dari solusi. Bhabinkamtibmas, Babinsa, Masyarakat Peduli Api, kepala desa dan tokoh adat harus menjadi bagian dari jejaring pencegahan di tingkat tapak.


Karena itu, edukasi harus diarahkan pada tindakan nyata, mulai dari tidak melakukan pembakaran, menjaga lingkungan hingga segera melaporkan potensi kebakaran.


“Karhutla bukan hanya tanggung jawab Polri atau pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama. Partisipasi masyarakat menjadi kunci agar potensi kebakaran dapat dicegah sebelum meluas,” tegas Wakapolri.


Wakapolri juga mengingatkan personel bahwa penugasan ini bukan semata-mata kegiatan penyuluhan. Para peserta pendidikan kepemimpinan harus menggunakan kesempatan tersebut untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat dan efektivitas organisasi di lapangan.


“Rekan-rekan adalah middle dan top manager. Karena itu, lihat bagaimana organisasi bekerja, bagaimana kondisi wilayah dan bagaimana kebijakan diimplementasikan,” ujarnya.


Kehadiran personel di lapangan diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara negara dan masyarakat sekaligus menghasilkan pemahaman yang lebih baik mengenai akar persoalan Karhutla.


Dengan pendekatan humanis dan partisipatif, Polri ingin memastikan masyarakat menjadi bagian aktif dalam mencegah kebakaran sejak dari tingkat tapak, sebelum api berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Polri Lakukan Langkah Awal Mitigasi Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Masyarakat Diimbau Tetap Tenang

 

Polri Lakukan Langkah Awal Mitigasi Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Masyarakat Diimbau Tetap Tenang


JAKARTA — Polri melakukan sejumlah langkah awal mitigasi untuk mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang meluas ke sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan dengan mengerahkan personel dan sarana pendukung untuk membantu masyarakat sekaligus mengurangi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan dan aktivitas warga.


Salah satu upaya yang dilakukan jajaran Polri yakni mengerahkan kendaraan Armored Water Cannon (AWC) untuk menyemprot sejumlah ruas jalan yang terdampak abu vulkanik. Penyemprotan dilakukan untuk membersihkan endapan abu di permukaan jalan sekaligus mengurangi potensi abu kembali beterbangan akibat terpaan angin maupun aktivitas kendaraan.


Selain penyemprotan jalan, personel Polri di sejumlah wilayah juga membagikan masker secara gratis kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan dan warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah preventif untuk mengurangi paparan abu vulkanik terhadap saluran pernapasan.


Polri juga memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak, termasuk di kawasan bandara, sebagai bagian dari upaya memastikan masyarakat memperoleh pertolongan dan pelayanan yang dibutuhkan di tengah dampak erupsi.


Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan berbagai langkah tersebut merupakan langkah awal mitigasi Polri dalam merespons dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, jajaran Polri terus melakukan pemantauan dan akan menyesuaikan langkah penanganan dengan perkembangan situasi di lapangan.


“Langkah-langkah yang dilakukan jajaran Polri ini merupakan upaya awal mitigasi untuk membantu masyarakat menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kami melakukan penyemprotan jalan, membagikan masker, serta memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Isir.


Isir menegaskan, Polri akan terus hadir dan bergerak bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat di wilayah yang terdampak. Jajaran di daerah juga diminta terus memantau perkembangan situasi serta melakukan langkah-langkah yang diperlukan sesuai kondisi di lapangan.


Di sisi lain, Isir mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi kondisi tersebut. Masyarakat diharapkan tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah maupun instansi terkait.


“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Aktivitas masyarakat tetap dapat berjalan dengan memperhatikan kondisi lingkungan. Yang paling penting adalah menjaga kesehatan, terutama dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan abu vulkanik,” kata Isir.


Terkait masyarakat yang mengalami gangguan perjalanan maupun penerbangan akibat sebaran abu vulkanik, Isir mengimbau agar tetap bersabar dan mengikuti arahan dari otoritas bandara, maskapai, maupun instansi terkait. Penyesuaian jadwal, penundaan, maupun pembatalan penerbangan merupakan langkah yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan keselamatan bersama.


“Bagi masyarakat yang perjalanan maupun penerbangannya terdampak, kami mengimbau untuk tetap tenang dan bersabar. Ikuti seluruh arahan dan informasi dari otoritas bandara serta pihak terkait. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas bersama,” ujar Isir.


Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait perkembangan erupsi. Masyarakat diminta mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang dan segera mencari pertolongan apabila mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.


Untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan atau layanan kepolisian, Polri juga menyediakan akses pelayanan melalui Super App Polri dan Call Center 110. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh bantuan maupun menyampaikan laporan kepada kepolisian.


“Polri bersama seluruh stakeholder akan terus memonitor perkembangan situasi dan melakukan langkah mitigasi lanjutan sesuai kebutuhan. Kami ingin memastikan masyarakat tetap merasa aman, tenang, dan mendapatkan pelayanan yang diperlukan. Apabila membutuhkan bantuan kepolisian, masyarakat dapat memanfaatkan Super App Polri maupun Call Center 110,” tutup Isir.

Bantuan Pengolahan Air Bersih (Water Treatment) untuk Warga Tepus Gunungkidul.


 

Bantuan Pengolahan Air Bersih (Water Treatment) untuk Warga Tepus Gunungkidul.

 

GUNUNGKIDUL - Pemerintah Daerah DIY bersama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Polda DIY menggelar bakti sosial penyaluran bantuan pengolahan air bersih (water treatment) bagi warga terdampak kekeringan. Kegiatan penyerahan bantuan ini dipusatkan di Balai Padukuhan Pudak, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, pada Senin, 7 September 2026.

 

Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Kanjeng Gusti Yudanegara, didampingi oleh Asisten Sekda DIY Aria Nugrahadi, Inspektur DIY Muhammad Setiadi, serta jajaran Kepala OPD di lingkungan Pemda DIY. Hadir pula Kasubdit Tipikor Polda DIY AKBP Hario Duto Pamungkas, S.I.K., Wakapolres Gunungkidul Kompol Sumanto,S.H, Kasat Samapta Polres Gunungkidul, Kapolsek Tepus, Dan Tim Brimob DIY Ipda Kusworo, jajaran Forkopimkap Kapanewon Tepus, BPBD, serta sekitar 100 warga setempat.

 

Dalam sambutannya, Kanjeng Gusti Yudanegara menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda DIY, Forkopimda Kabupaten Gunungkidul, serta Forkopimkap Tepus yang telah memfasilitasi kegiatan penyaluran alat water treatment sesuai dengan arahan Gubernur DIY.

 

Alat pengolahan air bersih atau water treatment ini merupakan bantuan negara yang dimiliki oleh Satuan Brimob Polda DIY. Melalui alat ini, air yang sebelumnya keruh dapat diolah sehingga bisa langsung dikonsumsi dengan aman oleh masyarakat, ujar Kanjeng Gusti Yudanegara. Beliau berharap kolaborasi antara Keraton, Pemprov DIY, dan Polda DIY ini dapat memberikan solusi nyata serta manfaat yang berkelanjutan bagi warga masyarakat dan dijadwalkan akan berlangsung selama kurang lebih lima hari ke depan di wilayah Kapanewon Tepus.

 

Humas Polres Gunungkidul ).

Minggu, 06 September 2026

Brimob Polda DIY dan Polsek Patuk Salurkan Bantuan Air Bersih Siap Konsumsi untuk Warga Terbah


 Brimob Polda DIY dan Polsek Patuk Salurkan Bantuan Air Bersih Siap Konsumsi untuk Warga Terbah


Gunungkidul - Satuan Brimob Polda DIY bersama Polsek Patuk menggelar bakti sosial penyaluran bantuan air minum menggunakan Kendaraan Khusus (Ransus) Water Treatment di Balai Dusun Kayugerit, Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Sabtu (5/9/2026).

Program kemanusiaan ini disiapkan untuk membantu warga yang membutuhkan pasokan air bersih selama sepekan, terhitung mulai 5 hingga 11 September 2026. Kehadiran Ransus Water Treatment sangat diandalkan karena mampu langsung mengolah air menjadi siap konsumsi secara higienis, sehingga efektif menekan risiko kesehatan warga di tengah musim kemarau.

Kegiatan monitoring hari pertama ini dihadiri oleh personel Sat Brimob Polda DIY, Tim BPBD DIY dan Kabupaten Gunungkidul, jajaran pemerintah kapanewon dan kalurahan setempat, serta warga masyarakat. Sementara itu, Polsek Patuk mengerahkan personelnya untuk melakukan pengamanan guna memastikan distribusi bantuan berjalan aman dan kondusif. Berdasarkan jadwal, lokasi penyaluran selanjutnya akan bersifat tentatif menyesuaikan kebutuhan di lapangan, serta direncanakan mendapat peninjauan dari Gubernur DIY beserta Forkopimda.

( Humas Polres Gunungkidul ).