Minggu, 08 Maret 2026
Minggu, 01 Maret 2026
Bukan Kembar Tapi Identik: Cerita Unik Dua AKP Sumardiyono yang Resmi Jadi Kompol di Hari yang Sama.
GUNUNGKIDUL – Ada pemandangan yang tak lazim dan mengundang decak kagum di Aula Patriatama Polres Gunungkidul pada Senin pagi, 2 Maret 2026. Dalam sebuah upacara resmi, nama yang sama dipanggil berulang kali, pangkat yang disandang pun serupa, dan tujuan kenaikan pangkatnya pun setingkat.
Ini bukan kesalahan administratif, melainkan sebuah fenomena langka: dua perwira Polres Gunungkidul memiliki nama yang persis sama, yaitu Sumardiyono. Keduanya berangkat dari pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan hari ini, secara bersamaan, resmi menyandang pangkat baru sebagai Komisaris Polisi (Kompol).
Upacara Korp Raport Kenaikan Pangkat Penghargaan ini dipimpin langsung oleh Kapolres Gunungkidul, AKBP Damus Asa, S.H., S.I.K., M.H. Suasana khidmat seketika terasa unik saat pembacaan keputusan kenaikan pangkat menyebutkan nama "Sumardiyono" untuk dua subjek yang berbeda namun memiliki dedikasi yang sama-sama tinggi.
Satu Nama, Dua Pengabdian
Meski bukan saudara kembar, kedua Kompol Sumardiyono ini seolah memiliki garis takdir yang identik di penghujung masa dinas mereka. Kenaikan pangkat penghargaan ini diberikan oleh institusi Polri sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian tanpa cacat selama puluhan tahun.
Kapolres Gunungkidul, AKBP Damus Asa, mengungkapkan bahwa momen ini merupakan sejarah tersendiri bagi Polres Gunungkidul.
"Kenaikan pangkat yang diterima hendaknya disikapi dengan rasa syukur dan rendah hati, arif dan bijaksana, meskipun masa pengabdian hanya tinggal beberapa bulan lagi hendaknya tidak mengurangi semangat dalam melaksanakan tugas pengabdian sebagai anggota Polri," pesan AKBP Damus Asa dalam amanatnya.
Bagi kedua perwira tersebut, kebetulan ini menjadi cerita penutup karier yang sangat berkesan. Kenaikan pangkat dari AKP ke Kompol merupakan penghargaan prestisius yang hanya diberikan kepada anggota dengan rekam jejak bersih menjelang masa pensiun.
Peristiwa unik ini pun menjadi perbincangan hangat di lingkungan Polres, mengingatkan semua anggota bahwa kesetiaan pada tugas akan berbuah manis pada waktunya, terlepas dari uniknya nama yang disandang.
( Humas Polres Gunungkidul ).
PATROLI MALAM, ANTISIPASI KERAWANAN
Intensitas curah hujan yang tinggi menyimpan berbagai kerawanan. Bencana alam, tanah longsor, banjir, pohon tumbang bahkan beberapa kasus pencurian terjadi saat hujan lebat.
KOMPOL MUSTAQIM, S.H., M.AP. sebagai Kabag Ops Polres Gunungkidul menanggapi kerawanan yang ada dengan menggerakkan patroli di jalur utama Kota Wonosari.
“Mari bersama-sama mejaga keamanan dengan meningkatkan kewaspadaan dan segera laporkan atau telepon ke 110 apabila ada kecurigaan atau membutuhkan kehadiran kepolisian” ujar Kompol Mustakim
Keamanan dan keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, mari bersama menjaga Gunungkidul tetap aman dan kondusif dengan meningkatkan kewaspadaan.
Kamis, 26 Februari 2026
Ratusan Warga dan Kelompok Bregada Rakyat Datangi Polda DIY
SLEMAN – Pesan perdamaian menggema di sepanjang jalanan Sleman pada Kamis sore. Ratusan peserta kirab budaya bertajuk "Pratelan Budhaya Tolak Kekerasan Utamakna Katentreman" melakukan aksi jalan kaki dari Terminal Condongcatur menuju Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Langkah kaki para peserta yang mengenakan busana adat Jawa dan Nusantara ini menjadi simbol gerakan moral masyarakat dalam menjaga marwah Yogyakarta.
Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol Ihsan, S.I.K., menyampaikan bahwa setibanya di halaman Mapolda DIY, rombongan yang terdiri dari elemen masyarakat adat dan perwakilan Bregada Rakyat langsung disambut oleh Wakapolda DIY, Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K. didampingi beberapa Pejabat Utama.
“Kehadiran perwakilan Bregada Rakyat Widya Permana, Jaladwara, dan Wirotomo membawa suasana khidmat sekaligus menjadi penyemangat kami untuk bekerja lebih baik dan profesional serta mendukung misi berbagai elemen masyarakat dalam memulihkan citra Yogyakarta pasca-aksi anarkis yang sempat mencederai wajah Kota Budaya,” tambahnya.
Sementara itu dalam suasana khidmat, Brigjen Pol Eddy Djunaedi menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada Polda DIY yang disampaikan langsung kepada koordinator kegiatan, Widihasto Wasana Putra, dan perwakilan Bregada Rakyat (Widya Permana, Jaladwara, dan Wirotomo) serta partisipan warga masyarakat adat yang tetap teguh menjaga marwah daerah.
"Budaya Yogyakarta adalah budaya adiluhung yang menjunjung tinggi tata krama, tepa selira, dan harmoni sosial. Pesan damai ini adalah resonansi moral bahwa DIY menolak kekerasan dalam bentuk apa pun," tegas Brigjen Pol Eddy.
Wakapolda mengingatkan bahwa perusakan fasilitas umum bukanlah cerminan jati diri warga Yogyakarta. Ia menekankan pentingnya penyampaian aspirasi secara santun, sesuai dengan dhawuh (pesan) Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menurutnya, sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat adat merupakan benteng utama agar Yogyakarta tetap menjadi wilayah yang teduh dan bermartabat, sekaligus menghapus preseden buruk akibat aksi anarkis sebelumnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keamanan Bumi Mataram, Brigjen Pol Eddy Djunaedi menegaskan tiga poin komitmen Polda DIY:
1. Menjamin Kebebasan Aspirasi: Memberikan ruang penyampaian pendapat secara damai sesuai hukum.
2. Pendekatan Humanis: Mengedepankan dialog dan langkah persuasif dalam setiap pelayanan unjuk rasa.
3. Sinergi Keamanan: Bersama masyarakat menjaga katentreman lan karaharjan (ketenteraman dan kesejahteraan).
Acara pun ditutup dengan gaungan slogan kirab, “Tolak Kekerasan, Utamakan Katentreman,” sebagai janji bersama untuk memastikan Yogyakarta tetap menjadi rumah yang nyaman bagi siapa pun.
BIDHUMAS POLDA DIY
Yogyakarta, 26 Februari 2026



.jpg)


